Dialog Malam

Ada yang diam-diam bicara.. mengendap-endap merasa, bualan saja. Beberapa lantang bicara bahkan menantang, kemudian habis mati terlentang. Aku masih hijau, tak mengerti apa dan mengapa, apalagi bagaimana kehidupan ini meroda dan mengalir debarkan dada. Suatu kali pernahku berbincang dengan kawan, katanya perjuangan tak kenal titik lelehnya terus mengarang terus mengristal. Dua hari, dua bulan, dua semester... kujumpa dengannya, kini, bersama wajah rapi dan pakaian dengan pernak pernik ideologi berbincang dan berbicara A-Z. Saat itu, ternyata, sadarku ia benar perjuangan tak miliki titik leleh, tapi kawan menjadi busuk dan mulutnya  menjadi bau isinya retorika anyir aspal kotoran ternak yang hendak petani giring untuk makan dipadang rerumputan. Dan, ya, ia jilati ludahnya dengan nyinyir, ia punya titik leleh. Si kawan lelehkan 'perjuangan' yang, nyatanya, tak meleleh dibangun.

Sekali waktu pun aku melihat.. mereka yang teriak gaungkan langit menuntut, tapi Tuhan saja jauh dari dari dekapan sujud melutut. Suatu kali aku bertemu dengan wanita tua yang agaknya memikul beban hidup sepertinya sudah letih menjajakan rambutan dari halaman rumah, yang hanya, beberapa serta kerupuk beberapa biji dijembatan penyebrangan. Mengais, tapi tak mengemis. Berjalanku diujung jembatan yang sama malaikat dekil yang merebahkan punggung tangan depan lalulalang dengan wajah memelas dan sang bunda duduk dikejauhan anak sambil menyediakan kaleng kecil sepertinya bekas biskuit hari raya untuk mendapatkan pundi yang lebih banyak. mengemis? Atau pengemis adalah mereka yang tinggal berpagarkan emas berengselkan intan dan menggauli isi kantong budaknya? Apakah kehidupan selucu itu?

Komentar

  1. lucu memang kehidupan ini, tapi jangan ditertawakan tapi direnungkan :)
    makin jago aja bikin tulisanny

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pilihan

Dunia pura-pura